Tentang Ramalan dan Masa Depan

Penat sesorean online di media ngobrol, produk salah satu mesin pencari terlaris, saya mencoba mengalihkan perhatian dengan tontonan ringan di tabung kaca. Sambil berbaring di kasur, tangan saya mencaricari kotak kecil segi empat berwarna hitam dengan tomboltombol, angkaangka dan tulisan Polytron di atasnya. Dan..klik, terhubunglah sebuah saluran yang tidak terlalu banyak menayangkan acaraacara sinetron nan tak bermutu. Alihalih demikian, saluran ini menjadi favorit saya karena kerap menayangkan filmfilm impor box office keluaran (paling cepat) dua tahun yang lalu pada momenmomen prime time. Ya sudahlah, toh saya juga tidak setergantung itu dengan tabung kaca berukuran 20 inch yang sudah ikut menemani saya selama ini.

Suarasuara tawa cekikikan silih berganti mengikuti celotehan sang pembawa acara, yang baru kali ini saya lihat, menguncir tinggi rambut kriwilkriwilnya yang sudah terkenal kemiripannya dengan vokalis sebuah band terkenal ibukota yang juga ikut menyumbangkan lagu pada sebuah film lokal kebanggaan anak bangsa dengan latar belakang keindahan lokasi wisata Pulau Belitong itu (ini kurang panjang apalagi coba intronya?). Ternyata acara hahahihi tersebut kali ini sedang menayangkan parodi talkshow dengan bintang tamu seorang peramal terkenal se(lebih dari tengah) baya berinisial ML (ooh please…like no one knows :D ) Lagilagi ironi. Apa sih yang diharapkan dari ramalanramalan semu kalau realita yang terpampang di depan mata dapat kapan saja berubah berbanding lurus dengan perubahan paradigma dan fluktuasi sebab akibat dari kenyataan itu sendiri. Setiap aksi menghasilkan reaksi. Setiap helai daun yang jatuh dari pohonnya dapat memiliki kaitan dalam beberapa versi berbeda dengan seorang anak manusia yang kebetulan melewati pohon yang daunnya jatuh tersebut. Bisa jadi sebuah skenario menyedihkan jika kebetulan sang anak berlarilari dengan sepatu ketsnya dan kebetulan menginjak daundaun yang berserakan di hamparan tanah yang basah dan licin sehabis hujan, dan kemudian terjatuh karenanya. Atau sebuah skenario lain yang memperlihatkan sang anak yang berjalanjalan perlahan di bawah pohon sambil memandangi dedaunan yang berguguran dan tibatiba….Eureka!!! Sang anak mendadak mendapat ilham untuk melengkapi tugas ilmiahnya tentang hubungan percepatan gravitasi terhadap resistansi. Terlalu berlebihankan skenario saya? Intinya, menurut saya, ramalmeramal tersebut tak lebih dari usaha memanipulasi realita, mengandaiandaikan, tak ubahnya seperti menggulirkan dadu dan bermainmain dengan kombinasi permutasi yang tidak terhitung jumlahnya, dan juga menantang Tuhan. Apa yang akan terjadi kemudian merupakan bagian dari campur tangan Tuhan yang meliputi nasib, kesempatan, pilihan dan konsekuensi. Karena sejatinya, tiaptiap apa yang membentuk masa depan adalah konsekuensi dari keadaan dan pilihan yang kita ambil dari tiaptiap pilihan yang ditawarkan oleh kesempatan .

Ah, sudah terlalu jauh nampaknya saya melantur. Kembali pada sang peramal berinisial ML tersebut, setelah ditanya,”Kira-kira apa saja kejadian signifikan yang menandai pemilu pada tahun 2009 ini?” hanya memberikan sebuah jawaban singkat,”Ada yang bagus, ada juga yang tidak.” Lalu balik bertanya kepada tuan pembawa acara,”Mau yang mana dulu??” Sembari cengengesan tuan pembawa acara tersebut menjawab,”Yang bagus aja dulu deh. Takut euy mau denger yang jelekjelek, takut serem” ditingkahi tawa bersahutsahutan penonton yang menyaksikan secara langsung. Dengan gayanya yang (selalu) kalem, sang peramal menjawab,”Yang bagusnya adalah….akan terpilih seorang presiden.” Titik. Ada jeda sesaat yang mengikutinya. Saya tertegun mendengar jawaban itu, dan tak lama…”Hahahahahahahaha…” terpingkalpingkal saya menyuarakan kegelian yang amat sangat terhadap jawaban yang amat (sangat) polos situ. Tak lama, tuan presenter yang sepertinya kurang puas terhadap jawaban singkat sang peramal kembali memburu pertanyaan,”Lalu situasinya akan seperti menjelang pemilu tersebut? Apakah kondusif, baikbaik saja, ataukah akan ada keributan dan kerusuhan?” Sambil menyunggingkan senyum yang tak kalah kalem dari gayanya, sang pelamar kembali menjawab,”Yaaah…pada awalnya memang akan ada kerusuhan yah…seperti yang biasa kita saksikan jelang saatsaat pemilihan. Lah wong menjelang pemilihan kepala daerah aja suka ributribut, nah apalagi ini yang pemilihan presiden, ya ndak?? Tapi pada akhirnya akan kembali tenang kembali, setelah terpilih presidennya nanti.”

Saya tak mampu berkatakata mendengar komentar dan jawaban sang peramal (kondang) tersebut….Jelas saja, karena katakata saya sudah habis tertelan amukan tawa yang tak habishabisnya dalam hitungan enampuluh detik. Bahkan agar lebih ekspresif, saya sampai harus gulingguling di lantai kasur untuk menyuarakan kegelian saya (yang ini beneran, bukan sekedar hiperbolis). Hanya karena sebuah jawaban retorikal dari seorang peramal kondang di layar kaca saya sampai harus sebegitunya mengekspresikan kegelian sekaligus keprihatinan saya.

Ahhh….bagaimana generasi kita akan maju, jika setiap saatnya tabung kaca selalu menjejali kita dengan tayangantayangan tak mendidik seperti ini??? Ya sudah, daripada terusterusan ngomel sama si tabung kaca (kasihan dia… setiap saat saya omeli) lebih baik saya menyetel winamp player saja…Ada masih banyak cara lain untuk beristirahat dengan tenang….

….malaikat juga tahu…

….siapa yang jadi juaranya….

Tragedi Gaza, Tragedi Kemanusiaan

Penyerangan membabibuta ke jalur Gaza kali ini sudah jauh melampaui sebuah gerakan balasan militer dari Israel, tapi sudah mencapai batas pembantaian massal, sebuah genocide abad ini yang jelas-jelas dengan kepongahan luar biasa telah dipertontonkan sebuah negara kecil namun adidaya kepada semua mata di dunia. Telah sedemikian banyak korban sipil yang kehilangan nyawa, terjatuh dalam kubangan penderitaan fisik yang luar biasa, sementara jalur diplomasi di gelanggang meja PBB masih berkutat sedemikian rupa dengan tarik ulur perdamaian yang entah kapan masih akan selesai. Akankah kita diam saja, menonton anak-anak manusia meregang nyawa dengan santai sambil mengunyah makanan dan menggoyang-goyangkan kaki??? Bahwa melalui ini saya menyatakan bahwa tragedi Gaza bukan hanya tragedi saudara sesama muslim, namun juga tragedi saudara sesama manusia. Mereka yang masih memiliki hati nurani dan spirit kemanusiaan pasti menyadari bahwa kemerdekaan ; bebas dari segala be kntuk tindakan penindasan, penganiayaan apalagi tekanan-tekanan mengancam nyawa keseharian ; adalah hak segala bangsa, dan hak tiap-tiap individu manusia yang dilahirkan di dunia dalam keadaan tanpa belenggu keterikatan. Ayolah teman-teman, mari bantu dan dukung gerakan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina, jangan biarkan kita menjadi bagian dari generasi cuek yang apatis ketika menyaksikan pembantaian di depan mata. Tim relawan Indonesia dari lembaga kemanusiaan MER-C telah diberangkatkan hari ini ke daerah konflik tersebut. Sedikit donasi dari kita mungkin dapat membantu rakyat Palestina yang terluka melalui mereka.

as written @facebook

Australia, a Far Away Land of Rainbow….

Awalnya saya tidak begitu berniat menyaksikan film ini, yang dari beberapa review yang saya dengar, tidak memberikan nilai kepuasan yang cukup bagi para kritikus (or reviewers?). Hanya sebagai pengisi waktu, agar dapat menikmati kenyamanan duduk-duduk di ruangan hommy ber-ac ditemani segelas ice blended cappuccino, setelah berpegal-pegal ria melakukan perjalanan menyusuri sejarah dan kebudayaan masa lalu di sebuah museum depannya monas.

Tadinya saya menyangka saya tak akan kuat mengalahkan rasa ngantuk yang mendera tak lama setelah menikmati seat dan pemutaran film, saking kurangnya interes saya pada film ini. Ternyataa…..memang betul! Hahahaha, rasanya saya hampir-hampir jatuh tertidur pada pertengahan durasi. Diiringi suara merdu nyanyian dan alunan harmonika yang mendendangkan lagu, yang juga soundtracknya film legendaris terkenal- The Wizard of Oz- Somewhere Over The Rainbow, keindahan pemandangan padang rumput Australia yang memang terkenal menakjubkan, dan suasana film yang (hampir-hampir) magis (ditambah kursi empuk dan buaian ac bagi orang yang sedang mengantuk, oohh…jangan bayangkan!). Entah karena alasan-alasan yang saya kemukakan tadi, atau memang ada hubungannya dengan intensitas plot cerita yang naik turun, klimaks-anti klimaks, terus berulang-ulang sehingga semangat penonton yang tadinya sempat tegang dan bersemangat mengikuti alur cerita perlahan-lahan mulai memudar. Jangan tanya berapa kali saya menguap (ga ada hubungannya emang, lah wong saya udah ngantuk dari awalnya kok, hehehe).

Namun bukan berarti saya mereview film ini sebegitu buruknya. Tidak, sama sekali tidak. Menurut saya film ini bagus, dalam artian yang ingin dihadirkan oleh sutradaranya, ini sudah di atasnya bagus (kira-kira bagus plus plus lah). Sang sutradara, Bazz Luhrmann memang sudah terkenal akan film-film olahannya yang mengharu biru, cenderung (terlalu) dramatis, sentimental, dan ‘kena’ banget bagi penonton yang menyukai film-film sejenis ini, bagi yang telah menyaksikan karyanya Romeo and Juliet atau Moulin Rouge, pasti mengerti apa yang saya maksudkan. Contoh film pembandingnya yang paling pas nih, Gone with the Wind.

Oiya, saya sampai lupa menuliskan resensinya. Cerita ini mengambil setting Australia Utara sebelum PD II, dengan sudut pandang Nullah (dimainkan dengan cemerlang oleh Brandon Walters, a new aborigin movie star), seorang bocah campuran aborigin-kulit putih, yang oleh masyarakat pada saat itu dianggap sebagai cream boy alias bocah campuran, dan pada jamannya selalu diculik, dan diberikan keahlian khusus sebagai pelayan bagi masyarakat kulit putih yang menguasai dan menjajah benua tersebut pada masa itu, dengan kata lain “being civilized” atau “dibudayakan” (bukan dibudidayakan lohh ya) menurut istilah mereka. Anak-anak cream boy yang diadopsi dan “dibudayakan” ini, disebut sebagai The Lost Generations. Inilah salah satu topik di antara berbagai isu tentang Australia lainnya yang ingin diangkat oleh Bazz Luhrmann dalam filmnya ini. Melalui sudut pandang Nullah, penonton menyaksikan cerita tentang seorang aristokrat Inggris, Lady Sarah Ashley (Nicole Kidman) yang jauh-jauh terbang ke Australia untuk menjemput suaminya, yang mengelola sebuah peternakan di sana. Ternyata yang dijumpainya adalah sang suami yang telah terbunuh meninggalkan warisan sebuah peternakan yang tak terurus dan diambang kerugian karena pengkhianatan mantan pegawainya. Sang Lady kemudian berjuang keras menyelamatkan peternakan tersebut, dibantu seorang penggiring ternak yang gagah nan berani, Drover (Hugh Jackman, duuuh pandangan matanya…ga kuat bo’ – komentar khas female reviewer-), walaupun harus didera berbagai masalah pengkhianatan, intrik busuk dari peternak saingan, keinginan untuk mengadopsi sang anak campuran ; yang saat itu tidak dapat diterima karena perbedaan kelas dan warna kulit;  hingga kisah cinta rumit dengan sang penggiring ternaknya. Sampai pada suatu ketika, negara mereka diporakporandakan oleh pasukan Jepang yang secara membabibuta meluluhlantakkan wilayah dan masing-masing dari mereka bertiga harus menemukan kembali kepingan hati yang hilang agar dapat kembali bersatu.

Mungkin memang banyak yang ingin disampaikan para penggagas film ini untuk memperkenalkan wajah lain Australia pada dunia. Namun semua ide yang ingin disampaikan itu tampaknya kedodoran (lagi-lagi kedodoran, kenapa sih seneng banget nulis istilah ini????) karena kurang fokus membidik ide utama yang ingin disampaikan. Well you can’t give the whole ideas in your mind to everyone right? Sometimes it will be more effective if you just tell them one big issue and then feedback them into other smaller issues soon they got interested with the big one. But then again, it’s a movie, not a two-way-communication- art media.

Overall, I’m quite impressed. Just what I have said, this movie is fine to them who enjoy the magnificent scenery of Australia which is so Luhrmann’s typically, the impressive chemistry between Nicole and Hugh Jackman, the mysticism of Aborigin, also the issue of slavery and marginal society. Ooh, I forget, also the quote which is said dramatically by Jackman, ”Just because it is, doesn’t mean it should be” which means a lot and sooooo cool (duuh duhh…) Well, apparently behind the storyline’s weakness and a lot more , I still believe it’s still worth looking at… In fact, I cried a tear for a second (hahahahaha…yang ini mah emang beneran cengeng dari sananya :D )

…somewehere over the rainbow, way up high…
there’s a land that I heard of, once in a lullaby…
somewhere over the rainbow, skies are blue…
and the dreams that you dream of, dreams really do come true…

Tentang Coin A Chance (Gabung Yuuuuk…)

Sekitar satu minggu yang lalu, saya mendapat kiriman email dari seorang teman. Email tersebut berisi ajakan untuk mengikuti sebuah kegiatan sosial yang idenya (menurut saya) sungguh bagus dan orisinil. Kelihatannya, kerasnya kehidupan metropolis tidaklah selalu mematikan semangat masyarakat untuk terus dan tetap berbagi dengan sesama.

Ide awal kegiatan ini merujuk pada pemikiran seorang blogger (yang kemudian saya baca blognya dengan rekomendasi teman saya di atas) tentang sebuah hal kecil, yang bahkan mungkin sebagian dari kita akan menganggap remeh. Bagaimana tidak remeh? Lah wong yang dipikirkan tersebut adalah tentang uang receh, uang logam yang biasa diterima sebagai kembalian uang dari sebuah transaksi keuangan.

Memangnya seperti apa sih pemikiran remeh temeh tersebut sehingga kemudian bisa menghasilkan ide kegiatan yang dengan luar biasa disambut antusias oleh masyarakat luas? Kira-kira beginilah pemikirannya.

Ketika anda melakukan kegiatan atau transaksi ekonomi dalam keseharian anda, apakah anda sering menerima uang receh atau logam sebagai kembalian? Biasanya apa yang anda lakukan dengan uang kembalian tersebut? Apakah anda gunakan kembali untuk melakukan transaksi ekonomi lainnya (membayar ongkos angkutan misalnya), atau ditaruh saja di dasar tas untuk terlupakan kemudian, atau diberikan kepada pengamen atau pengemis yang lalu lalang di keramaian kota, ataukah mungkin anda tabung atau simpan di celengan???

Jika saja anda mengumpulkan kembali uang logam yang anda miliki tersebut, baik di celengan, saku, tas, laci, selah2 meja, atau bahkan di tempat-tempat lain yang anda lupa sempat menaruhnya disitu, dan kemudian anda berkesempatan untuk membantu anak-anak kurang mampu yang berkeinginan melanjutkan sekolahnya dengan uang logam yang anda kumpulkan tersebut, apakah anda bersedia????

Kemudian jika anda telah bersedia, lalu bagaimana caranya untuk merealisasikan niat anda tersebut???
Ide inilah yang kemudian menginspirasikan beberapa blogger untuk membentuk suatu kegiatan bertajuk COIN A CHANCE.
Sebuah gerakan sosial untuk mengumpulkan ‘recehan’ atau uang logam yang bertumpuk dan jarang digunakan.
Uang yang terkumpul akan ditukarkan dengan “sebuah kesempatan” bagi anak-anak yang kurang mampu agar mereka dapat melanjutkan sekolah lagi.

Untuk lebih jelasnya dapat diklik disini

http://coinachance.wordpress.com

So, ayolah teman, jangan biarkan uang logammu bertumpuk tidak berguna, cukup simpan satu aja kalo perlu buat kerokan, hehehe… lalu lainnya kumpulkan dan salurkan ke COIN A CHANCE.
Mari kita mulai dari hal-hal kecil, dan jadikanlah yang kecil itu lebih bermakna :D

Note : thx to seorang teman yang mengenalkan saya pada kegiatan ini dan membantu memudahkan aktivitas blogging saya, hahaha….maturnuwun sanget pakdhe :D

Jalan (bukan jualan) Kambing

Sepenggal percakapan di kantor kemarin….

Saia : ”Selamat siang, kantor ********, ada yang bisa saya bantu?”

WP : ”Iya Bu, selamat siang, mau tanya ya Bu…alamat kantor ini lengkapnya dimana ya Bu?”

Saia : ”Di Jl. Kartini VIII No. 2 Jakarta Pusat, Pak…”

WP : ”Apaa Bu??? Maaf Bu agak kurang jelas…”

Saia (kembali mengulangi) : ”Di Jalan kartini VII no. 2, Pak..”

(background : suara kendaraan yang melintas dengan kencang, bruuumm bruuummmm…)

WP : ”Jalan apaaa Buuuuuuk?” (dengan ketinggian suara meningkat satu oktaf)

Saia : ”Kartini Paaakkkk” (ikut-ikutan meninggi satu oktaf, membuat rekan kerja seruangan melihat dan cekikikan)

WP : ”Apa Buuu??? Jalan Kambing??????!!!!!”

Saia : ”…….”